Seminar Nasional “Meneguhkan Tareka di Era Society 5.0”dalam Rangka Pekan Tasawuf 2023 Prodi Ilmu Tasawuf STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Pada hari Senin, 21 Agustus 2023 pukul 08.00 WIB Prodi Ilmu Tasawuf, STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “Membumikan Tarekat di Era Society 5.0” di ruang Multipurpose. Seminar ini merupakan acara pertama dari rangkaian kegiatan pekan tasawuf Prodi IT 2023.

Seminar tarekat ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kemudian dilanjutkan sambutan oleh Ketua STAI Sunan Pandanaran Dr. Sukamta, MA. dan Kaprodi Ilmu tasawuf Dr. Ade Supriyadi, MA. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh bapak Dr. Sulaiman, M.Ag, Bapak Rizal Fauzi, M.Ag dan Bapak Mudrik Minanurrohman, S. Sos., M.Ag.  dengan moderator Ibu Lia Nur Khotijah S. Sos.I., MA salah satu dosen prodi ilmu tasawuf.

Ketua STAI Sunan Pandanaran dalam sambutannya menjelaskan bahwa Ilmu Tasawuf adalah ilmu yang langka karena kurang peminatnya, padahal ilmu Tasawuf adalah ilmu yang mampu menghantarkan manusia menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka sejatinya beruntunglah orang-orang yang menekuni ilmu Tasawuf ini. Kaprodi Tasawuf menambahkan dalam sambutannya bahwa salah satu praktek Tasawuf adalah amaliah tarekat di bawah bimbingan seorang mursyid atau guru. Tarekat yang diikuti haruslah tarekat yang mu’tabar dan bisa dipertanggung jawabkan kesahihannya. Saat ini tarekat tidak tidak hanya dijalankan oleh orang usia tua saja, akan tetapi banyak juga orang usia muda yang menekuni dunia tarekat.

          Sementara itu, Bapak Dr. Sulaiman, M.Ag yang saat ini menjabat sebagai Ketua Yayasan Al-Wahidiyah Semarang dan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang periode 2019-2023 menjekaskan dalam pemaparan materinya bahwa tarekat memiliki banyak kontribusi bagi kehidupan di era society 5.0 yaitu era integrasi tekhnologi dan masyarakat dengan melibatkan tekhnologi canggih, seperti kecerdasan buatan, Internet of Things dan robotika ke dalam semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk aspek ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Tarekat di era Society 5.0 diharapkan memiliki kontribusi dalam bidang pemberdayaan masyarakat atau sosial, bidang pendidikan, penguatan nilai-nilai moral dan kerja sama antar individu

Pemateri berikutnya yaitu Bapak Rizal Fauzi, M Ag menyampaikan bahwa tarekat yang bercorak klasik akan sulit menyesuaikan dengan paradigma era society 5.0 karena tarekat ini bersifat ekslusif dan zuhud yang memandang negatif dunia. Lain halnya denga tarekat neo sufisme yang lebih bisa diterima di era society 5.0 meskipun tantangannya lebih berat dibandingkan tarekat klasik karena harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat dan keharusan tetap menjaga hati ketika terlibat aktif dakwah di medsos, mengelola bisnis, terjun di dunia politik praktis dan pendidikan modern.

Pembicara ketiga yaitu Bapak Mudrik Minanurrahman lebih menjelaskan tentang jati diri manusia yang memiliki sisi lahir dan sisi batin. Secara lahir manusia menjalani profesinya masing-masing baik sebagai pengajar, pedagang, petani, peternak, pengusaha atau karyawan. Sedangkan secara batin manusia membutuhkan ajaran-ajaran tasawuf untuk meraih kebahagiaan akhirat di dunia atau akhirat, seperti ajaran sabar, ikhlas, waro’, syukur, qanaah dan taubat.

Hasil yang diharapkan dari seminar ini adalah disamping memperkenalkan tentang prodi Ilmu Tasawuf STAISPA kepada masyarakat umum juga untuk mengakrabkan Tarekat kepada mereka agar tarekat tidak terkesan sebagai ajaran yang eksklusif sehingga mereka tertarik untuk belajar tasawuf atau tarekat secara lebih mendalam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *